Posted on Leave a comment

Terapi Ozon Terbukti Sukses Tangani COVID19)

Seorang pria berusia 49 tahun di Spanyol yang terjangkit virus Corona memburuk di bangsal dan membutuhkan penanganan khusus di ruangan ICU. Ia mengalami kondisi paru-paru yang begitu buruk dan membutuhkan oksigen tambahan dengan konsentrasi tinggi. Pihak rumah sakit telah merencanakan intubasi dan pemberian ventilator. Namun, sebelum hal tersebut dilakukan, sebuah keajaiban datang. Kondisi pria tersebut membaik setelah satu kali melakukan terapi ozon. dr. Alberto Hernandez menjelaskan bahwa “Respon yang terjadi pasca satu kali sesi terapi ozone sangat spektakuler. Kami sangat terkejut, laju pernapasan pasien menjadi normal dan kadar oksigen meningkat. Kami juga menghentikan suplai oksigen eksternal setelahnya.”

Selain itu, di Rumah Sakit Universitas Santa María della Misericordia University di Udine, Italy, 36% pasien dengan kasus pneumonia-Covid 19 yang mengalami kesulitan bernapas ditangani dengan Terapi Ozon. Hasilnya cukup mengejutkan, hanya 3% pasien yang membutuhkan intubasi dan bantuan ventilator pasca terapi ozone. Hal ini tentunya menjadi berita baik untuk alternatif penanganan Covid-19.

Di Cina, seorang pria berusia 66 tahun dilaporkan terinfeksi virus Corona dengan gejala batuk dan sakit tenggorokan, disertai meningkatnya suhu tubuh hingga 39.2oC pada 22 Januari 2020. Dia memiliki histori penyakit pernapasan kronis. Berbagai terapi diberikan oleh rumah sakit, seperti pemberian antivirus dan antibiotik, namun tindakan tersebut tidak menghasilkan perbaikan yang signifikan. Pihak rumah sakit akhirnya merekomendasikan pasien untuk melakukan terapi ozon dengan metode major autohemotherapy (MAH) dengan konsentrasi ozon sebanyak 3L/menit. Pasien tersebut diberi terapi ozon selama 7 hari berturut-turut sejak 15 Februari 2020. Setelah menjalani terapi ozon, kondisi pasien mengalami peningkatan secara signifikan dan dinyatakan sembuh pada 22 Ferbruari 2020.

Mekanisme Kerja Ozone terhadap COVID19

Corona Virus memiliki cysteine pada tonjolan proteinnya yang dengan mudah dan aman bisa dioksidasi dengan Terapi Ozon. Cystein pada virus corona dapat berikatan dengan protein yang ada pada membran sel manusia. Jika cysteine virus bereaksi dengan protein membran, maka membran sel sehat akan terbuka dan virus masuk ke dalam membran sehingga terjadi infeksi virus.

Ketika virus terpapar dengan ozone maka cystein yang membawa gugus sulf-hydryl (R-S-H) residue yang jg disebut “Thiol” group akan melumpuhkan pertumbuhan virus tersebut, paling sedikit 2 logs lebih rendah daripada type virus yang wild.. Setelah reaksi tersebut, maka Cystein virus akan teroksidasi.

Terapi ozon adalah Novel Treatment untuk pengobatan penyakit yang disebabkan oleh virus apapun  yang tidak bisa diobati secara kedokteran konvensional. Namun, karena teknologi ozon ini tidak bisa dipatenkan, maka tidak ada perusahaan yang tertarik mendanai penelitian tentang terapi ozon, sehingga hanya sedikit studi formal yang telah dilakukan. Akan tetapi, semakin berkembangnya zaman, sekarang telah banyak jurnal-jurnal penelitian yang telah diterbitkan di Jerman, Russia, Cuba dan Italia dan berbagai negara lainnya yang membuktikan efek biokimia yang sangat kuat dalam tubuh manusia.

Ozone Therapy, selain efektif untuk mengobati pasien Covid19 dapat juga dilakukan untuk tindakan pencegahan. Ozone juga berperan sebagai immune booster, energy booster,  dan antioksidan bagi pasien sehat.

Source:

https://hype.grid.id/read/432121323/terkuak-begini-penjelasan-idi-dan-who-mengenai-pasien-sembuh-tanpa-bantuan-petugas-medis?page=al

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *